Monday, 12 March 2018

Anugerah


Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman dan sandal butut kehilangan warna. Hujan tidak begitu deras namun sarapan tidak akan datang. Kepingan uang receh di tangan masih sangat sedikit dan jalanan penuh dengan orang yang terburu-buru atau berteduh. Hujan adalah anugerah bagi beberapa orang dan malapetaka bagi sebagiana lagi. Bingung dan putus asa. Hendakkah ia berkata lapar tapi apa gunanya, mengingatkanmu pada sesuatu yang tak kau miliki.
Dulu tidak begini, di pagi hari yang dingin atau cerah, selalu ada susu hangat dan omelan manis dari ibunya, lalu di siang hari akan ada lomba layang-layang sampai sore datang dan ia pulang ke rumah penuh lumpur. Hujan boleh turun seenaknya karena tidak akan ada yang menggigil, dan tidak akan ada lapar. Hujan hanya akan jadi hal yang menarik karena si anak kecil akan terdiam di depan jendela dan melihat buih-buih hujan dari cucuran atap serta membayangkan dia jadi superhero.


Post a Comment

Anugerah

Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman...