Monday, 28 August 2017

Saudagar, Kota dan Pelangi



Sore itu, seusai hujan muncul pelangi tepat di depan rumah seorang saudagar kaya. Si saudagar begitu kelihatan bahagia. Pelangi segera diikatnya dengan tambang-tambang yang kuat dan beberapa bagiannya dipaku. Si pelangi tidak bisa kemana-mana lagi.
Orang-orang berdatangan melihat pelangi. Beberapa diantaranya malah memanjat naik ke atas pelangi dan menuliskan nama mereka. Si saudagar tentunya tidak melepaskan kesempatan bisnis begitu saja. Setiap orang yang datang dimintai uang dengan tarif yang berbeda, menyentuh saja, mendaki atau berfoto malah ada paketannya segala semuanya disesuaikan dengan isi dompet masing-masing.
Ketika malam tiba si pelangi kerap meronta dan menangis ingin pulang. Tangisannya melolong memecah malam namun tidak ada yang begitu peduli. Beberapa kasihan. Namun bagimana lagi, memiliki pelangi yang bisa dinikmati sepanjang masa bukanlah yang hal biasa.
Tidak butuh waktu lama, si pelangi  mulai memudar dan warnanya rontok tak lagi berkilau. Si saudagar tentu tak kehilangan akal. Dia dan beberapa pekerjanya mulai mengecat pelangi. Mereka bekerja siang dan malam. Si pelangi kembali berwarna dan indah walau di tiap malam lolongannya selalu menyayat hati.
Di suatu ketika di kala hujan sedang lebat-lebatnya. Sebuah pelangi besar dengan kumis panjang melintang muncul di tengah kota berteriak-teriak lantang dan mulai mengacak-acak seisi kota.
Pelangi besar memanggil dan mencari anaknya yang tak kunjung pulang. Tiang-tiang listrik dicabut dan dilempar jauh-jauh, beberapa rumah penduduk diinjak hingga rata dengan tanah. Orang-orang panik dan bertangan ke rumah si saudagar meminta agar anak si pelangi dilepaskan “bodoh sekali kalian, sudahkah kalian lupa bahwa hanya dengan 1 pelangi saja desa kita sudah menjadi sangat kaya, banyak turi s yang berdatangan membawa uang warung-warung laku dan anak-anak bisa sekolah tanpa menunggak bayaran. Apa kalian tidak bisa membayangkan kalau kita memiliki 2 pelangi?
Mengangguk-angguk sejenak, terdiam dan mengiyakan.
Masing-masing membawa tambang kapak dan pasak besar. Kita akan menangkap pelangi. Si pelangi masih sibuk mengamuk menghancurkan rumah-rumah dengan tiang listrik saat sekumpulan warga datang dan mulai mengayunkan kapak ke kaki pelangi besar. Tidak berdarah. Hanya pijaran warna yang menyembur dari retakan di kakinya disusul lolongan panjang penuh kemarahan dari pelangi besar. Si pelangi besar menendang ke sana kemari dengan sangat liar. Orang-orang beterbangan layaknya daun kering. Beberapa takut beberapa terdiam namun hanya sesaat. Orang-orang kembali dengan jumlah yang lebih banyak mengayunkan kapak ke kaki pelangi besar. Yang ketakutan memanggil nama tuhannya masing-masing dan sejenak kemudian dengan semangat berani mati kembali menyerang pelangi besar. Beberapa malah mulai memanjat ke pundak pelangi besar dengan kapak dan pacul. Dari mulai kaki sampai punggung pelangi besar kini penuh dengan retakan dan pijaran warna yang tak hentinya menyembur. Kota penuh warna yang berceceran dan orang-orang berlumuran warna.
Si pelangi besar sesekali berteriak kesakitan tak berdaya dan pelan-pelan tersungkur.
Warga berteriak riang dan bahagia.
Pelangi besar yang kini tak berdaya diikat dengan tambang besar dan diseret ke depan rumah saudagar. Si pelangi kecil menangis histeris tak henti dan meronta namun tambang dan pasak yang mengikatnya jauh lebih kuat. Gontai dan lunglai si pelangi besar memeluk pelangi kecil. Tidak ada yang peduli, mereka tetap mengikat dan memasang pasak sementara pelangi besar dan pelangi kecil tak henti menangis. Saudagar tertawa puas. Tidak banyak orang yang memiliki dua pelangi di halaman rumahnya.
Demikianlah orang-orang kembali berdatangan untuk mengagumi kedua pelangi seperti sebelumnya. Beberapa kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok pecinta pelangi menyatakan keberatannya dan meminta saudagar untuk melepaskan pelangi. Tapi tidak ada yang berbeda, pelangi tetap terikat dengan pasak besar, saudagar tetap tertawa bahagia di depan rumahnya dan orang-orang berdatangan untuk berfoto. Hingga pelangi-pelangi itu memudar dan lesu. Tak ada lagi tangis. Hanya warna-warna yang kehilangan warna.
Hingga pada suatu senja yang penuh semburat, muncul pelangi baru dengan rambut hitam panjang semampai melangkah gontai sambil menangis tersedu-sedu mencari suami dan anaknya yang tak kunjung pulang.
Orang-orang sejenak mengagumi keanggunan pelangi. Hanya  sejenak lantas mereka mulai mengambil tambang, pasak dan kapak. Hari belum malam kala itu tapi matahari terlihat begitu buru-buru untuk beranjak.

Kemayoran 28 Agustus 2017
Post a Comment

Anugerah

Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman...