Saturday, 15 March 2014

CATATAN PEMAIN (Sabtu, 15 Maret 2014)


Salam Semangat!
-Diny Khunaeni-

ALOGO, naskah yang ditulis oleh Bapak Sumihar Deny T.T dan juga disutradarai olehnya. Alogo yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ditendang sekarang kau disayang, jebret-jebret josh!asiik oke sekip. Kenapa seperti itu? Karena dulu naskah ini sempat ingin dipentaskan tetapi tidak jadi karena ada beberapa hal yang menyebabkan, ya tidak jadi dipentaskan. Tidak untuk sekarang, naskah ini pasti akan dipentaskan dan pasti akan berhasil karena banyak sekali yang mendukung proses ini, aamiin.
Hari pertama latihan alogo, saya datang dan sempat mengikuti olah tubuh walaupun terlambat karena ketidaktahuan dimana tempat latihan, kata Nilam di Tercil Baru, saya kesana tidak ada, lalu saya ke terbuk lagi, nihil. Lalu ke belakang FIP tapi sepi akhirnya bertemu Kak Dinda dan Maswal ternyata di Pendopo FIP, katanya. Yap saya datang dan terlambat, tetapi keterlambatan itu telah saya bayar dengan push up  sebanyak 30 kali. Setelah itu, saya tidak begitu yakin ingin mengikuti proses ini karena beberapa kendala, namun sang Bapak Deny menguatkan dan memberi semangat apalagi dengan latihan hanya 3 kali seminggu jadi bisa membagi waktu dengan tugas-tugas kuliah, dan saya pun semangat! Minggu kedua latihan alogo saya datang tepat waktu jam 4 sudah di terbuk bersama Kak Adi, tapi orang-orang tak kunjung datang, dan ternyata latihannya di Pendopo FIP lagi, terimakasih Mas wal dan bang Step sudah memberi tahu. Olah tubuh dipimpin oleh Kakak Stefanus Hutajalu, rindu sekali dengan olah tubuh yang hanya baru beberapa menit sudah mengucurkan keringat sangat banyak. Setelah sholat maghrib, para prajurit berlatih sedangkan beberapa yang tidak menjadi prajurit reading naskah. Saya pun reading mencoba menjadi Putri Tapian. Latihan selesai, sepulangnya saya 3 kali baca naskah lagi, karena kata Kak Deny minimal 3 kali baca naskah lagi heheu. Latihan hari ke-2 di minggu kedua, casting Putri Tapian tapi saya tidak berhasil memerankan dengan baik sosok Putri Tapian. Keesokannya Bapak Deny menawarkan kesempatan kepada saya untuk casting lagi dan menasehati saya untuk tetap menjadi diri sendiri. Ya hari ke-3 latihan saya ikut casting lagi, saya dan Ziya di ­keep ­untuk memerankan Putri Tapian dan Dayang-dayang Putri Tapian, antara kami belum tentu, tapi terimakasih Bapak saya senang telah memercayai saya.
Latihan hari itu di alun-alun UNJ, karena tempat yang sudah nyaman menurut kami di sabotase oleh oknum tertentu, menyedihkan. Di alun-alun sangat ramai membuat latihan kurang nyaman, sangat terlihat raut wajah Bapak Deny sangat sedih apalagi dompetnya hilang, apakah sudah ketemu sekarang?
Ada yang sedang main musik, ada yang sedang latihan menari, ada yang hanya duduk-duduk saja menikmati keindahan kampus tercintanya. Kami pasti dapat tempat latihan kami kembali, semoga. Kesedihan hari itu sedikit terbayar dengan teriakan kami yang membuat semua mata tertuju pada kami. Apa Liat-Liat, Kami Aktor Bukan Televisi, Hoh!
Post a Comment

Anugerah

Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman...