Monday, 26 May 2014

Midah dan Mati



Tolong persiapkan peti mati dan pemakaman secepatnya untukku.”
Bodoh, ucapan macam apa itu. Hamidah, perempuan baik-baik berusia 20 tahun tiba-tiba memutusan untuk mati. Anehnya dia menentukan cara dan tanggal matinya dengan bantuan dan dukungan teman-teman terdekatnya. Sungguh hal yang aneh dan tidak masuk akal. Di luar sana banyak orang yang mati-matian hanya untuk bisa hidup sementara dia memutuskan untuk mati dengan seenaknya. Apa dia pikir perkara hidup dan mati merupakan hal yang sepele.
“Dia tidak bisa ditemui sekarang, kondisinya sedang tidak bagus dan tidak memungkinkan.”
“Apa aku harus menemuinya setelah dia meninggal?Bodoh, aku harus menemuinya sekarang juga, harus sekarang.Kau yakin dia serius untuk mati?Apa kau yakin dia tidak sedang bercanda?
“Tidak ko, dia beneran ingin mati. Semua ini terjadi sejak temen lamanya memutuskan untuk menikah dan menetap di London, di kota yang sangat Midah sukai”
“Iya, semua ini ia lakukan untuk menunjukkan ketegarannya”.Demikian kata kedua temen dekatnya dengan sangat berapi-api.Anehnya tidak ada penyesalan sedikitpun di wajah mereka.
Ketegaran? Sejak kapan ketegaran ditunjukkan dengan cara mati? Ini sangat konyol.Sekarang juga aku harus bertemu dengannya.
Aku bergegas menuju rumahnya dan menghiraukan kedua mahluk aneh yang masih ingin meneruskan cerita dengan wajah bersemangat.
Lagi-lagi aku dihadapkan pada kegilaan.Rumah Midah dipenuhi orang berpakaian gelap layaknya pakaian pelayat yang sedang berkabung dan terlihat bendera kuning yang berkibar gontai tidak jauh dari halaman rumahnya.Ya Tuhan, jangan-jangan dia sudah meninggal.Terasa beberapa bulir airmata mengalir lemah.
Di teras rumahnya terlihat segerombol ibu-ibu lengkap dengan gorengan dan teh manis menemani obrolan mereka. Aku segan memasuki rumahnya.Sekilas terdengar obrolan ibu-ibu mengenai betapa luar biasanya sosok Hamidah yang memutuskan untuk meninggal dan menunjukkan ketegarannya.Tidak ada satupun dari mereka yang menyatakan tindakan Midah bodoh. Malah beberapa dari mereka mulai menyesali karena tidak memiliki keberanian untuk mati di usia muda mereka dulu. Kakiku mendadak lemah dan tidak mampu menopang tubuhku. Aku bersandar  pada sebuah pohon yang entah pohon apa. Teringat sosok Midah yang polos dan lucu.Dia memang suka melakukan tindakan aneh, namun semua tindakannya hanya mendatangkan tawa bukan tangis dan kesedihan seperti ini.
Ada rasa tidak percaya dia sudah meninggal. Aku bingung dan tidak tahu harus melakukan apa, dan aku hanya duduk sembari menatap ke arah gerombolan ibu-ibu yang masih asik dengan diskusinya.
“Midah, makan dulu nih biar kamu tidak sakit, biar tetep fit” sayup dari dalam terdengar suara seorang ibu-ibu. Aku yakin itu suara ibunya Midah.Aku memang tidak pernah bertemu dengan ibunya tapi aku sangat yakin kalau itu suara ibunya. Kasihan ibu Midah, pasti dia tidak  bisa menerima kenyataan bahwa anaknya sudah meninggal. Ya ampun Midah, kenapa kau begitu bodoh, tidakkah kau lihat ibumu?Tidakkah kau kasihan dengan ibumu?Sungguh tega kau.Tidak ada nada kesedihan pada suara ibunya.Tidak ada bedanya dengan suara seorang ibu yang hendak menyiapkan sarapan untuk anaknya menjelang berangkat sekolah.
“Iya mah, Midah juga udah laper nih. Sambelnya masih ada kan? Aku suka sambelnya tau mah”
Seisi dunia terasa hening.Aku mendengar suara Midah dari dalam rumah dan dia sedang meminta sambal.Kali ini aku yang sudah gila.Mungkin aku sudah stress.
“Mah, ko temen-temen midah belum pada datang ya? Mereka lama amat.”
Nah, suara itu lagi, suara yang sama. Itu suara Midah.Aku tidak gila.Tergesa-gesa aku masuk ke dalam rumah.Tidak kupedulikan piring gorengan milik ibu-ibu yang sedang mengobrol di teras.Aku menginjak beberapa piring hingga gorengan-gorengan berceceran di lantai.
“Hati-hati mas, gorengannya tumpah semuanih” Aku tidak peduli. Sangat tidak peduli.Kumasuki rumah Midah dan pemandangan yang kutemui sungguh membuatku marah. Di ruang tamunya tidak terdapat satu perabotan pun selain tempat tidur kecil dengan lebar hanya sekitar satu meter dan panjang sekitar tiga meter. Tempat tidurnya diletakkan tepat di ruangan.Terlihat sekitar sepuluh sepuluh orang berpakaian serba gelap layaknya pakaian pelayat yang sedang mengitari tempat tidur tadi.Di tempat tidur terlihat Midah yang duduk dengan santai sembari makan.Dia makan.
Aku hanya bisa diam melongo melihatnya, tidak ada kata yang kuucapkan.
“Eh kak Deny, baru datang kak? Sini gabung.” Lantas dia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Apa-apaan ini, ko dia malah makan dan tanpa merasa bersalah sedikitpun menyuruhku bergabung. Kegilaan macam apa ini? Aku sudah menangis atas kematiannya dan dia malah makan dengan santainya.Bukannya aku ingin dia mati.Tidak, aku tidak ingin kita mati.Tapi kenapa dia malah makan?
“Midah, apa-apaan ini? Jika kamu ingin bercanda, bercandaanmu sungguh sangat tidak lucu”
“Ko bercanda? Apaan maksudnya.” Kali ini dia malah menunjukkan wajah bingung
“Katanya kamu mau mati, katanya kau ingin menunjukkan ketegaran, katanya keinginanmu sudah bulat ingin mati dan orang-orang ini berapa rupiah kalian dibayar untuk mendukung lelucon ini?Berapa kalian dibayar? Tidak hanya sampai di situ saja, kau malah memasang bendera kuning di depan rumahmu. Kau pikir ini lucu?”Kutumpahkan semua kekesalanku.Aku sungguh merasa dipermainkan.
‘Oh itu, jangan marah dulu.Aku memang mau mati.Temanku pergi dan hendak tinggal di London.Aku sangat ingin pergi ke tempat itu. Dia malah pergi duluan ke sana dan ninggalin aku. Yaudah daripada aku di sini dan menangis cengeng, aku mutusin mati untuk menunjukkan ketegaranku. Mereka ini bukan pelayat, mereka cuma orang-orang yang kagum samaketegaranku Ka. Aku memang belum bisa mati sekarang, peti matinya belum selesai.Pemakamannya juga lagi diurus sama teman-temanku.”
Orang-orang yang sedari tadi mengitari dia dan sekumpulan ibu-ibu yang tadi ngobrol di teras mulai berkumpul memutari ranjang Midah.Setiap dari mereka menunjukkan wajah kagum dan terpesona oleh penjelasannya.
“Tunggu dulu, jadi kau niat untuk mati?”
“Iya, kan tadi udah dijelasin.Gimana sih?”
“Tapi mati yang kamu lakukan ini bukan simbol ketegaran, ngerti ga sih arti ketegaran?Kau mati sia-sia kalau begini”.
“Nga ko, justru yang seperti ini merupakan simbol ketegaran mutlak. Iya kan?” serempak orang-orang yang di ruangan menyatakan tanda setuju dan kagum.
“Lalu bagaimana dengan temanmu yang pergi ke London?Bukankah dia merasa bersalah atas kematianmu?Kamu tega dia hidup dengan penuh penyesalan?”
“Engga, justru dia sangat senang dana merasa terhormat menjadi bagian dari ini semua.”
“Midah, bukan begini caranya, harusnya kamu menabung agar bisa pergi ke sana bukan malah mati.Caramu salah ini.”
“Kak, kayaknya kita beda pemikiran. Biarin aja pikiranmu begitu tapi aku tetap sama prinsipku.”
“Iya jangan maksain kehendak dong, terserah dia dengan prinsipnya.”
Serentak laksana koor, seisi ruangan menyalahkan sikapku.Aku dianggap arogan dan tidak menerima perbedaan pendapat.
Ironi aneh macam apa ini. Bahkan teman-teman terdekatnya mendukung dia untuk mati. Selagi kami masih mendebatkan hal tersebut, di luar terlihat sebuah mobil pick up yang sedang menurunkan peti mati dengan ukiran-ukiran yang samar terlihat membentuk pola bunga.
“ Itu baru sampai, aku rencananya mau mati pakai peti mati. Nanti kalau udah di dalam peti kan kehabisan nafas. Yaudah mati.”
“Midah, kamu yakin?Itu serem lho, mati kehabisan nafas menyeramkan Midah.”
Aku mulai mengeluarkan beribu argument mengenai betapa seram dan mengerikan mati karena kehabisan nafas, namun dia tetap pada pendiriannya. Sementara manusia-manusia aneh yang ada di sana selalu mendukung apapun yang dia ucapkan.
Frustasi dan kesal aku memilih untuk pulang dan menenangkan diri.Aku masih tidak dapat menerima kejadian ini.Terlalu fiktif untuk menjadi nyata.
Kucoba menyalakan tv, mencoba menikmati siaran-siaran aneh sekedar mengalihkan perhatian namun tetap saja aku memikirkan hal yang sama.
Tidak berapa lama, dua orang teman dekat Midah datang ke rumahku.Mata mereka sembab dan bengkak pertanda baru saja menangis. Entah apa yang bisa mereka tangiskan jika kematian sahabat mereka saja tiak mampu membuat mereka sedih.
“Kak, tolong Midah.Kasihan dia kak.Tolongin Midah.”
Akhirnya orang-orang bodoh ini sadar juga. Entah apa yang menyadarkan mereka.
“Ayo sekarang juga  kita ke rumah Midah. Aku akan menolong kalian.”
“ Kenapa ke rumahnya? Kita bukan mau menolong kan.”
“Lah, bukannya kita mau menolong Midah agar dia tidak jadi mati?
“Ko dicegah? Bukan itu kak.Petugas pemakaman ingin agar midah dikremasi atau dibakar dan nantinya abunya bisa dimasukkan ke guci entah mau ditabur dimanapun. Katanya proses pemakaman hanya membuang-buang tanah produktif.”
“Terus memangnya kenapa kalau dia harus dibakar?Bukannya toh dia mati-mati juga? Kalian menginginkan kematiannya kan?
“Iya kak, tapi kalau dia dibakar, nanti abunya akan terkontaminasi oleh kacamata yang Midah pakai.Nanti ketegarannya tidak akan menjadi murni karena adanya kacamata yang menyaru pada debunya.”
Tolol, yang mereka takutkan bukan panas api kremasi yang akan membakar tubuhnya tapi malah menakutkan abu yang terkontaminasi oleh kacamata. Padahal kacamata bisa dilepas dengan begitu mudahnya.Toh kacamata tidak permanen menempel ke tubuh seseorang.
Kegilaan macam apa ini? Tapi aku tetap saja aku tidak tega melihat dia terbakar. Tentu dia akan kesakitan dan sangat menderita.
Kuputuskan untuk berbicara pada petugas pemakaman. Dengan sedikit negosiasi dan tambahan amplop tentunya, dia mengiklaskan Midah mati dengan cara dimasukan ke peti dan kehabisan nafas walaupun akan menyia-nyiakan sepetak tanah.
Aku sudah pasrah.Kalau dia memang harus meninggal ya biarkan saja.
Segala macam persiapan sudah selesai.Bahkan urusan tanah pemakaman sudah dibayar tunai.Anehnya aku ikut dalam persiapan pemakaman aneh itu.
Di halaman rumahnya terlihat meja panjang dengan tinggi sekitar satu meter dan di atasnya terdapat sebuah peti mati yang menurutku terlalu bagus jika hanya untuk dikuburkan. Di dalam peti mati terlihat Midah yang duduk dengan anggun sementara di sekitarnya terdapat sekumpulan pelayat yang duduk mengitari peti mati.
Midah dengan anggunnya memberikan ceramah mengenai ketegaran yang masih tetap tidak bisa kuterima.Aku melihat wajah-wajah tolol yang sesekali mengangguk.
Tibalah saatnya untuk Midah mati. Dia memejamkan mata sesaat seolah menikmati setiap detik terakhir yang ia miliki. Ia akan mati. Dia tersenyum padaku seolah berterimakasih.Ada kepuasan pada senyum itu dan bodohnya aku membalas senyumnya.
Tiba-tiba adikku yang berusia sekitar 5 tahunan berlari melewati prosesi pemakaman sembari menarik mobil-mobilan.Dia baru saja datang bersama ibuku.Aku tidak tahu entah darimana ibuku tahu mengenai kabar ini. Toh dia sama sekali tidak mengenal Midah dan dia tinggal di kota lain yang cukup jauh dari tempat ini, tapi nyatanya dia hadir mungkin untuk menyatakan kekagumannya pada ketegaran Midah.
Eh, itu siapa? Ko mirip banget sama Kak Deny?” Midah yang hendak mati terlihat sangat terkejut.Dia tidak menyangka aku memiliki adik.
“Namanya siapa? Ih lucu banget, mirip banget sama Kak Deny.” Dia lantas keluar dari peti mati menghampiri adikku dan bercanda serta menggendongnya.Dia tidak jadi mati.


Rawamangun, 24 Mei 2014
Post a Comment

Anugerah

Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman...