Monday, 26 May 2014

Ideologi



Aku tidak akan memakan uang negara sepeserpun. Ingat sepeserpun tidak akan.
Pengemis yang duduk bersederkan tiang listrik terlihat berbeda dengan pengemis lainnya. Dia mengenakan celana jeans biru dengan kaus putih yang sedikit ketat. tidak ada kesan pengemis kecuali kaleng rombeng dengan beberapa koin dan recehan lain di dalamnya. tubuhnya tidak cacat sama sekali, malah sedikit atletis. anehnya dia terlihat rapi dengan kumis yang tertata. Wajahnya tidak kotor, demikian juga dengan baju dan celana yang ia kenakan. dia malah mengenakan sepatu pantofel.
Aku beberapa melihatnya dan ada sedikit ragu apakah dia benar-benar pengemis? Jika saja dia berdiri dan masuk ke sekolah yang menjadi tempat kerjaku, maka aku akan sangat yakin jika dia merupakan salah satu orang tua murid.
Setiap sore sebelum pulang, aku selalu melihatnya duduk bersendarkan tiang listrik yang sama dengan kaleng rombeng yang selalu sama pula di tangannya. Beberapa muridku terkadang memberikand ia recehan, mungkin mereka tidak terlalu memusingkan entah dia pengemis atau tidak.
Suatu ketika, dengan alasan ingin merokok, aku keluar dari sekolah dan menghampirinya. Bertepatan hari itu sedang ada ekskul teater dan sebagai guru pembina, aku harus mengawasi sampai sore. Pengemis aneh itu datang ke tempat ia biasa duduk dan langsung mengeluarkan kaleng rombengnya. Pelan-pelan sambil merokok aku berjalan dengan niat melewatinya “Pak, bagi sedekah buat makan” katanya tiba-tiba. anehnya dia tidak memelas atau menunduk seperti pengemis lainnya. Dia menatap tepat ke mataku dan menyodorkan kaleng rombengannya. Tatapannya tidak seperti sekawanan preman di angkotyang memamerkan tatto dengan haraopan orang lain akan takut. tatapan matanya tidak menakutkan sama sekali, juga tidak memelas. Ragu, namun tanpa sadar aku mengeluarkan selembar seribuan dan memasukkan ke dalam kalengnya, lalu tanpa sadar aku berjalan ke arah sekolah tanpa menoleh sama sekali dan langsung menuju ke ruang teater melihat murid-muridku latihan.
Keesokan harinya kulihat dia datang dengan gaya yang sama. tidak ada yang berubah. Dia duduk dan mengeluarkan kalengnya. Harusnya aku sudah pulang karena hari ini tidak ada ekskul. Aku menatapnya dari gerbang sekolah dan sialnya dia melihatku. Telihat dia menunduk seolah memberi hormat dan bodohnya aku balas menunduk padanya. Entah apa yang ada di dalam otakku. Kutarik nafas panjang, kutenangkan diriku dan kuyakinkan pada diriku sendiri bahwa aku bisa mengontrol diriku. Aku harus tenang.  Dia hanya pengemis dengan tampilan berbeda. Aku harus mengobrol dengannya dan membuang rasa penasaranku.
Dengan langkah pasti, aku berjalan ke arahnya. Kuusahakan langkahku berwibawa dan tidak tergesa-gesa.  Kuhampiri dia. Sebelum aku berhenti melangkah, dia menengadahkan kaleng rombengnya dan berkata “Pak, bagi sedekah buat makan”. Tatapan matanya sama seperti sebelumnya. Tepat ke arah mataku. Tidak memelas dan tidak mengancam. Tanpa sadar tangan kananku merogoh kantong hendak mengambil recehan. Bodoh, umpatku dalam hati. Aku hampir memberi dia uang lagi. Kembali kucoba menenangkan diri. aku tidak jadi memberinya recehan. Dengan perlahan aku mengeluarkan rokok. Kata orang rokok dapat membuat pikiran tenang. Kunyalakan rokokku perlahan dan kutatap pengemis aneh itu. dia masih menyodorkan kaleng rombengnya. Kuhiraukan kalengnya. Aku duduk berjongkok di depannya.
“Kamu siapa? tanyaku
“Pengemis tuan, sedekah buat makan” jawabnya sembarai menyodorkan kalengnya.
“Kenapa kamu mengemis?”
“Agar bisa makan tuan, sedekah buat makan” Dia kembali menyodorkan kalengnya sembari mengguncang pelan hingga terdengar kerincingan logam.
“Bukan, bukan itu maksudku. Kenapa kau harus mengemis? Kau tidak cacat sama sekali, tubuhmu sehat, terlalu sehat malah”
“Sejak kapan ada peraturan mengenai pengemis? apa aku harus membuat diriku cacat agar layak sebagai pengemis?” sahutnya menatap tanpa sedikitpun keraguan.
“Ah, bukan itu maksudku, kau kan bisa bekerja apapun. Kau sehat maksudku. Kenapa kau tidak bekerja? Kenapa kau mengemis?”
“Lantas menurutmu mengemis bukanlah pekerjaan? Aku bekerja” ujarnya sembari mengacungkan kaleng tempat recehan. Tidak ada amarah pada ucapannya. Nadanya tegas dan bijak seperti seorang bapak yang mengajari anaknya.
“Tapi bukan itu maksudku.” Nada bicaraku mulai meninggi melihat pengemis yang mulai sok bijak. Ucapanku tidak kuselesaikan, kurasakan beberapa pasang mata melihat ke arah kami berdua. Sepertinya ada orang-orang yang penasaran melihat seorang guru yang sedang berdebat dengan seorang pengemis. Sementara pengemis itu masih mengacungkan recehannya.
“Ah, sudahlah.” Ucapku kesal sembari memberikan selembar uang dua ribuan ke dalam kalengnya. Aku lantas pergi meninggalkannya, namun baru beberapa langkah berjalan kudengar ia berkata dengan nada yang sama “Terimakasih tuan.”
Ah, bodohnya, kenapa tadi aku memberikan dia uang? dengan langkah penyesalan dan kesal kutinggalkan dia.
Beberapa hari kemudian, dia masih saja datang ke depan sekolah dan duduk di tempat biasa dan mulai mengemis. Pernah kuminta satpam sekolah untuk mengusir dia, namun katanya tempat pengemis tersebut sudah berada di luar pekarangan sekolah. Jadi, satpam tidak memiliki wewenang untuk  mengusirnya. Aku berusaha fokus pada rutinitas namun sulit rasanya. Entah kenapa aku selalu memikirkan pengemis aneh itu.
Rasa penasaran yang semakin berlebihan memaksaku untuk mengikuti pulangnya si pengemis. Ternyata dia hanya mengemis sampai sekitar jam 8 malam. Kuintip dia dari kejauhan. Kulihat dia merapikan barangnya dan bergegas menuju halte lalu menaiki sebuah angkot. Kuikuti dia dari belakang dengan menggunakan motor. Kugunakan slayer untuk menutupi wajah sekedar jaga-jaga apabila dia melihatku. Tujuannya cukup jauh ternyata.
Dia turun dari angkot di sebuah perumahan elite dan kemudian berjalan sekitar 100 meter lalu memasuki rumah yang cukup mewah. Banyak pertanyaan yang melintas di benakku. Aku menduga-duga bahwa rumah mewah yang dia masuki merupakan rumah bos pengemis. Sudah banyak kudengar kisah bahwa pengemis-pengemis memiliki sindikat yang dipimpin oleh orang-orang yang cukup kaya.
Kuhampiri rumah yang dia masuki namun aku tidak memasukinya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dari gerbang luar dapat kulihat kolam ikan dengan tanaman-tanaman hias di sekelilingnya. Tanpa sadar aku malah mulai mengagumi rumah dan pekarangannya.
“Cari siapa Pak?” seorang satpam menanyakanku. Seorang satpam tahu-tahu sudah berdiri di depanku. Pada dasarnya aku tidak tahu sedang melakukan apa atau mencari siapa. Aku hanya mengikuti seorang pengemis yang tiba-tiba saja masuk ke rumah yang sekarang ada di depanku dan bahkan tidak tahu siapa nama orang yang sedang kuikuti.
“Maaf  pak, anda mencari siapa? ulangnya
“Saya sedang mencari rumah teman saya” jawabku ngasal
“Boleh saya tahu alamatnya? kelihatanhya bapak sedang mengamati rumah ini bukan? ini rumahnya? nama teman bapak siapa?
Belum sempat kujawab pertanyaannya, dia sudah menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Aku pasti disangka penjahat atau maling.
Tiba-tiba dari dalam rumah keluar si pengemis dengan tatapan familiar seolah kami teman dekat atau semacamnya.
“Eh, sudah lama di depan? Ayo masuk. Kebetulan saya juga baru sampai di rumah”
“Oh, jadi ini teman bapak? maaf saya tidak tahu kalau anda temannya pak Vicky. Maaf pak” katanya sambil menunduk menunjukkan rasa hormat.
Dan layaknya orang bodoh, kuikuti saja ajakannya, malah aku semakin terlihat bodoh dengan berkata “Ah, baru sebentar ko” aku malah menambahkan senyum dan berjabat tangan dengannya.
“Ayo masuk”
Bingung dan ragu. Namun tetap saja aku melangkah masuk ke rumahnya lantas duduk di ruang tamu. Kuperhatikan begitu banyak barang-barang mewah di dalamnya. Tidak ada dialog. Suasana hening hingga seorang wanita yang menurutku pembantu rumah tangga menyedikan kopi hangat buat kami berdua.
“Ini rumahmu?”
“Iya, ini rumahku”
“Kau tinggal di sini?”
“Iya tentu saja. Sudah kukatakan tadi ini rumahku. Bukankah sudah fungsinya rumah untuk dihuni?”
“Tapi kau kan pengemis”
“Iya, aku pengemis”
“Bagaimana mungkin kau punya rumah sebesar ini? kau bahkan punya pembntu”
“Iya aku memang pengemis, tapi toh aku punya rumah ini. Tidak ada yang salah kan?
“Maksudku, kenapa kau punya ini semua? dimana kau mendapatkan ini?
“Hahahahaha, sepertinya kau sangat penasaran. Baiklah aku akan ceritakan padamu. Di pagi hari aku bekerja sebagai manager pada salah satu bank milik negara. Di sore hari, aku menjadi pengemis di depan sekolahmu. Itulah alasan aku punya rumah ini.”
“Kalau kau manager bank, lantas kenapa kau mengemis? kau sedang ingin merasakan penderitaan orang-orang miskin?” Aku semakin yakin kalau orang di hadapanku punya hobi yang aneh.
“Oh, bukan. Bukan itu alasannya. saya tidak berpura-pura. Saya serius”
“Saya bekerja sebagai manager. Rumah yang saya tempati ini pada dasarnya hanyalah fasilitas dari pekerjaan saya. Demikian juga dengan para pekerja di rumah ini. Katanya biar saya bisa fokus pada pekerjaan saya. Tampaknya anda tidak puas dengan penejelasan saya. Apakah bapak tahu pendapatan utama bank itu darimana? Pendapatan bank itu pada dasarnya berasal dari bunga pinjaman para nasabah. Jadi, menurut saya uang-uang yang dimiliki bank bukanlah uang hasil keringat. Prinsipnya hanya meminjamkan uang kepada orang lain dan meminta hasil pinjaman dengan jumlah yang lebih besar. Berbeda dengan pekerjaan lain. Contohnya Petani mendapat uang dari hasil panen atau tukang yang mendapat uang dari hasil jasanya atau bahkan tukang cukur yang juga mendapat jasa dari hasil mencukur rambut orang. Itu baru uang bener. Pekerjaan di bank prinsipnya hanyalah meminjamkan uang pada orang yang butuh dan saat dia hendak mengembalikan maka bank akan meminta bayaran yang lebih banyak. Ya salah jadinya. Saya tidak setujunya dengan yang beginian”
“Lantas honor yang anda peroleh dari bank bagaimana?
“Uang itu saya biarkan, tidak saya gunakan. Itu uang rakyat, uang negara. Saya tidak akan pernah memakan uang negara sepeserpun. Sebenarnya kita ini Cuma renteinir, Cuma karena instansinya besar dan lebih memasyarakat ya dianggap sah”
“Ya kalau tahu begitu jangan bekerja di bank, ganti profesi saja”
“Saya sengaja tidak ganti profesi. Biar saya saja yang menanggung dosa ini. Saya akan tetap bekerja di bank. Namun saya makan dari hasil mengemis. Itu namanya idealis.”
“Saya rasa itu bukan idealis. Itu kebodohan yang amat sangat. Saya rasa anda mengalami gangguan jiwa”
“Hahahahaha, saya sudah menduga kalau anda akan berpendapat seperti itu, orang lain juga pasti berpendapat demikian. Saya tidak marah dianggap mengalami gangguan jiwa. Tapi tenang saja, saya waras dan sehat.”
“Lantas kalau di rumah, anda makan masakan pembantu anda. Tidak konsisten dong namanya.”
“Tentu saja konsisten, saya menganggap makanan itu sebagai belas kasihan dia pada saya. Bukankah prinsip dasar mengemis itu adalah mengharapkan belas kasihan dari orang lain?”
“Gila, ini gila. Bukan idealistis sehat. Kenapa honor tidak kau sumbangkan saja pada fakir miskin? kan lebih berguna dan lebih logis?”
“Tidak bisa dong.  Kan itu duit haram. Anda ini bagaimana sih?”
“Anda punya Tuhan? punya agama?
“Hahahhaha dulu orang tua saya punya, tapi saya tidak melihat dampak positif dari hal-hal seperti itu. Yasudah saya tinggalkan.
“Benar-benar aneh aku tidak percaya dengan penjelasannmu. Aku bahkan tidak percaya telah melakukan obrolan ini denganmu. Ini gila dan bodoh”
Setelah menghabiskan semakan penuh dengan dialog-dialog yang aku sendiri tidak paham akupun pulang.
Keesokan harinya aku mengajar seperti biasa. Sepulang mengajar aku melihat pengemis aneh itu masih datang dengan kantong recehannya.
Kutinggalkan tasku dan beberapa buku pelajaran. Kuhampiri dia lalu duduk di sebelahnya. Kukeluarkan kaleng bekas susu dan mulai menengadahkan tangan.  Aku pun mulai mengemis.
Rawamangun, 30 September 2013
Post a Comment

Anugerah

Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman...