Monday, 17 November 2014

Review Pementasan Republik Cangik




Sial, lagi-lagi saya kecewa..
Pengalaman saya dalam dunia teater tidak bisa dipisahkan dari Komunitas Teater Koma. Pertunjukan teater yang pertama kali saya tonton merupakan pertunjukan dari Teater Koma  yang sekaligus menimbulkan rasa cinta saya pada seni pertunjukan. Guru teater saya yang pertama kali dan yang benar-benar membuat saya memiliki gairah untuk bergelut di dunia teater juga berasal dari Teater Koma. Banyak hal yang secara tidak langsung saya pelajari dari teater yang saya yakini merupakan garda depan Teater Indonesia.
Kali ini saya akan melakukan sedikit review mengenai pementasan dari Teater Koma  dengan lakon Republik Cangik yang baru saja saya tonton. Sebelumnya saya meminta maaf apabila saya terkesan begitu lancang atau terlalu sok untuk mengkritisi.
Setelah beberapa kali menonton pertunjukan dari Teater Koma, saya menyadari bahwa saya selalu memiliki harapan yang sangat tinggi terhadap komunitas ini. Sebelum menonton pertunjukan, secara tidak langsung saya sudah memiliki anggapan bahwa pertunjukan kali ini bakal keren, bakal lebih hebat dan lebih “wah” dari sebelumnya. Harapan yang sangat tinggi ini pulalah yang membuat saya begitu kecewa di akhir pertunjukan. Di pertunjukan sebelumnya (Mother of Courage) saya juga mengalami kekecewaan yang sama karena pertunjukan tidak seperti yang saya harapkan, saya memang mengharapkan hal yang lebih.
Di Republik Cangik saya membayangkan pasti tidak jauh dari Republik Petruk yang penuh dengan kemegahan dan pemanggungan yang hebat serta didukung keaktoran yang lebih dari memadai. Sialnya lagi-lagi saya terlalu berharap lebih. Ada satu hal yang selalu saja saya  temui dalam beberapa pementasan Teater Koma  yaitu  para aktor yang berada di panggung terlihat sangat ingin ditertawakan. Dalam Republik Cangik saya melihat pemeran Limbuk yang berkali-kali memainkan tetek besar dan pantat besar, gesture dari Cangik baik itu gaya berjalan, gaya berbicara semuanya terlihat lucu yang dilucu-lucukan seolah-olah sedang berhadapan dengan anak TK yang membutuhkan hiburan. Pemeran Batara Narada yang selalu mengeluarkan bunyi yang sama sebelum dialog dan bergaya ala reggae, celetukan-celetukan dari para penari latar seperti kata keles atau sejenisnya yang sedang in  di kalangan anak muda semuanya terlihat begitu ingin ditertawakan hingga menjadi komedi-komedi slapstick yang seharusnya tidak perlu. Dan anehnya hampir semua karakter memiliki gesture yang tujuannya untuk bahan lucuan.
Dari segi pemanggungan, terlihat sedikit aneh. Pemain musik yang ditempatkan di panggung otomatis menjadikan lebar panggung berkurang hampir setengah. Secara artistik memang keren bisa membagi panggung menjadi dua dimensi namun saya malah melihat sebagai ketidakmampuan untuk memainkan panggung dengan ukuran yang lebih lebar dan disiasati dengan mengecilkan panggung dengan cara yang lebih baik.
 Ada satu jenis properti yang menurut saya terkesan dipaksakan yaitu pistol yang digunakan oleh para tentara. Pistol yang digunakan memang keren baik dari bentuk maupun dari suara yang dihasilkan. Namun lagi-lagi saya melihat mereka (prajurit) yang memainkan pistol terlihat seperti sekelompok anak-anak yang sedang bermain-main dengan sebuah benda yang bisa mengeluarkan suara keras dan menjadi hiburan bagi mereka. Kurang terlihat adanya penyatuan antara aktor dengan hand property yang digunakan.
Penggunaan pistol tersebut sudah saya lihat beberapa kali dalam pementasan Teater Koma hingga saya punya pikiran aneh, sepertinya memasukkan konsep pistol-pistolan ke dalam pementasan bukan karena konsep tersebut dibutuhkan namun karena bisa dilakukan. Maksud saya, saya kurang melihat adanya keharusan properti pistol digunakan dengan suara yang fungsinya tidak lebih membangunkan mereka yang sedang tertidur. Begitu pula halnya dengan kuda yang dinaiki oleh salah seorang kandidat Maharaja yang tentunya merepresentasikan Prabowo lagi-lagi saya tidak melihat adanya keharusan dia menaiki kuda tersebut. Sepertinya penggunaan properti kuda yang pada dasarnya sangat keren secara artistik bukan karena diperlukan dalam pementasan ini namun karena Teater Koma  memiliki properti kuda seperti yang digunakan pada pementasan sebelumnya (Sie Jin Kwe)
Dari segi cerita, lagi-lagi saya kecewa.  Menurut saya cerita ini sudah bukan pada masanya karena pada dasarnya pementasan ini hanyalah menceritakan mengenai pemilihan presiden yang baru saja lewat. Tokoh-tokoh dengan nama diplesetkan menimbulkan kecenderungan pada penonton untuk menebak-nebak siapakah tokoh tersebut dalam dunia sebenarnya. Tokoh penyebab terjadinya lumpur lapindo, penyanyi yang ingin jadi presiden, orang yang ada di belakang pencalonan Jokowi dan hal-hal serupa lainny. Naskah yang ingin mengkritisi keadaan politik Indonesia dengan cara yang terlalu vulgar. Secara garis besar naskah ini meceritakan kondisi Indonesia dengan tokoh-tokoh yang namanya diplesetkan. Hanya itu saja. Tidak ada bedanya dengan teks anekdot. Hanya saya naskah ini memiliki durasi yang panjang dan ditulis oleh sastrawan.
Adegan penutup, juga menampilkan pesan yang sangat gamblang. Aktor menyatakan pesan-pesan secara langsung kepada penonton.  Secara menyeluruh, menurut saya pertunjukan Republik Cangik terlihat begitu membosankan dan penonton sangat menunggu kapan selesainya pertunjukan. Hal ini terlihat karena para aktor tidak bermain dari hati. Padahal dari segi jam terbang, tentunya para aktor memiliki pengalaman yang lebih dari cukup. Entahlah, saya melihat para aktor seperti melakukan suatu rutinitas.
Review ini saya tulis sebagai bentuk kekecewaan terhadap pertunjukan sebuah komunitas teater yang pernah saya agungkan. Saya menyadari bahwa saya sangat lancang dan kurang ajar untuk menulis hal ini, oleh karena itu saya meminta maaf sebelumya. Saya masih sangat berharap bisa menikmati pertunjukan Koma yang hebat di kemudian hari.
Salam budaya.

Sumihar Deny

Post a Comment

Anugerah

Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman...