Sunday, 26 October 2014

Senja





Di setiap senja yang selalu kita kumpulkan terdapat serpihan-serpihan yang entah serpihan apa. Beberapa dari mereka menyimpan aroma parfummu dan beberapa dari mereka menyimpan noktah lipstikmu. Di dalam stoples kaca bekas permen lolipop yang dulu kita beli di sebuah pasar malam, para serpihan kukumpulkan dan kupadatkan. Di atas stoples itu kuberikan label dengan tulisan “sampah” dan kuletakkan di ruang tamu.
Beberapa rekan yang kerap berkunjung selalu mengamati para serpihan untuk waktu yang cukup lama, padahal di tembok ruang tamu terpajang lukisan-lukisan abstrak yang dulu kubeli dengan harga puluhan juta.
Sementara senja yang dulu kita kumpulkan kutaruh di dalam bingkai kaca yang kugantung di teras dengan sorotan lampu yang sedikit remang. Semenjak itu teras tempat kita dulu menghabiskan senja, kini dipenuhi senja dan selalu sore. Walau demikian, aku hampir tidak pernah menikmati senja di teras itu. Aku tidak punya waktu dan kamu untuk menikmatinya. Hanya ada beberapa anak yang entah anak siapa terkadang bermain dan menatap senja yang tidak pernah mampu mereka habiskan.
Seperti biasa pada suatu sore yang basah karena memang selalu sore, aku pulang dari tempat kerja dengan segudang rasa lelah dan kantuk. Lagi-lagi aku tidak punya waktu dan  kamu untuk menatap senja pada bingkai kaca. Langsung menuju kamar mandi dan setelahnya berbaring di kamar dan tidur
Belum beberapa lama tertidur, dari teras terdengar suara gelas pecah berhamburan dan derap kaki anak kecil yang ketakutan. Suara berisik yang lebih dari cukup untuk membangunkan saya dari tidur yang tidak nyenyak. Enggan dan malas rasanya berjalan ke teras untuk mengecek. Berusaha tertidur. Namun sampai beberapa saat pikiranku selalu megarah kee teras dan suara berisiknya. Berjalan ke arah teras melewati ruang tamu. Sejenak tercium araoma parfummu yang sangat kuat dan di lantai terlihat noktah lipstikmu berceceran. Serpihan senja di dalam stoples meluap hingga memenuhi lantai ruang tamu. Ruangan penuh aromamu dan noktah lipstikmu terlalu berceceran di lantai.
Kusingkirkan beberapa serpihan yang menghalangi jalan dan berjalan menuju teras.
Sesampainya di teras, suasanya terlalu gelap dan pekat. Tidak ada cahaya-cahaya merah dan jingga yang biasa menghias teras, tidak ada awan-awan kelabu dengan matahari yang terlihat menjauh, tidak juga suara dari sekelompok camar dan gemericik air atau angina denga aroma rumput. Kulihat di tembok tidak ada lagi senja. Bingkai kaca tempat senja yang kita kumpulkan telah pecah dan tergeletak di lantai. Anehnya bukan senja yang berceceran di lantai. Ada malam yang tak henti menggeliat, ada gelap dan dingin yang berusaha memeluk segalanya. Awan-awan gelap memutar. Tidak ada bintang maupun bulan. Malam yang terlalu malam dan dingin yang terlalu mengundang gemeletuk.
kukumpulkan malam-malam yang berceceran di lantai. Kucoba memasukkan ke bingkai kaca yang lain, namun malam yang menggeliat berkembang dengan sangat cepat. Secepat apapun aku memasukkan mereka ke dalam bingkai. Walaupun bingkai kaca telah penuh dengan malam yang aku kumpulkan, tetap saja ada malam yang menggeliat dan berceceran di lantai. Hingga kuputuskan memasukkan ke dalam stoples-stoples yang aku miliki. Namun tetap saja ada malam yang selalu menggeliat di lantai.

Sunter, 23 Oktober 2014
Post a Comment

Anugerah

Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman...