Friday, 21 March 2014

Catatan Pemain Minggu Ketiga

Maapin baru menulis hari ini. Tadinya berniat menulis kemarin, namun apa mau dikata, koneksi internet tiba-tiba saja ngadat. Mau menulis notes di Facebook, tapi Facebook saya tidak bisa dibuka dengan baik. Saat membukanya di ponsel pun kejadiannya sama, entah kenapa. Makanya saya mencoba untuk menulisnya di blog saja.

Baiklah kini kembali ke topik, mengenai latihan minggu ketiga. Hari Senin UNJ diguyur air rintik-rintik yang tak henti-henti. Sudah tak diizinkan untuk berlatih dipendopo FIP, tidak tahu apa alasannya. Kak Oji mengumumkan latihan di Terbuk. Tetapi karena gerimis-tapi-lebat-tapi-bukan-hujan tak kunjung berhenti, kami berkumpul dulu di BAAK dan diputuskanlah untuk latihan di teras samping FIP. Sampai sana tempatnya dalam keadaan kotor, maka kakak-kakak dan teman-teman berinisiatif untuk mencari kain pel dan sapu untuk membersihkan lokasi. Setelah bersih, kami memulai latihan dengan menggarap adegan pertama. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar.

Di hari berikutnya kami latihan di tempat yang sama. Saya datang sedikit terlambat karena habis berburu buku bekas di Blok M Square. Sedikit kecewa karena latihannya masih di sana, tempat yang kurang nyaman bagi saya, karena tempatnya terlalu sempit. Ya mungkin sudah saatnya untuk mencoba menerima apa yang tidak disukai. Tapi pada akhirnya latihan dipisah antara prajurit dan pemeran-pemeran utama. Untuk prajurit latihan berpedang untuk menyerang dan bertahan di samping gedung BNI yang lebih leluasa. Latihan dipimpin kak Oji dan kak Mussab. Terima kasih kakak-kakak telah mengajari kami.

Ah ya, di hari yang sama, sebelum latihan berpedang, kami juga disuruh membuat lirik lagu untuk adegan pertama. Konsep dari Bapak sangat menarik dan sudah terbayang di kepala saya. Namun untuk lirik lagu belum terbayang sama sekali. Dari sekian banyak dari kami dibagi beberapa kelompok. Kelompok saya tidak ada yang pintar menulis, apalagi merangkai kata yang indah-indah. Pada akhirnya saat presentasi, kami tidak memberikan apa-apa karena belum membuat lirik lagu.

Lalu hari kamis, latihan dimulai di samping pendopo FIP. Kembali kami berlatih pedang dan belajar bermain gestur ala pendekar. Saya tidak mengerti kenapa bapak Deny tubuhnya sangat lentur untuk gerakkan apapun. Saya berusaha melompat tapi kelihatannya lebih seperti sedang bermain karet. Tidak jelas, aneh. Tapi yasudahlah, hal itu perlu latihan yang cukup lama. Selepas magrib kami pindah tempat latihan di samping FIP, dan menggarap adegan. Saya mendapat peran sebagai penjaga daging babi bakar. Saya akui, saya tidak berbakat dalam memasak babi guling. Masih harus terus mencari seperti apa gestur yang tepat sebagai koki babi guling.

Malamnya, hujan dan cukup banyak kilat. Tidak bisa langsung pulang, saya dan teman-teman seangkatan berbincang dengan bapak, sedangkan kakak-kakak yang lainnya berlatih untuk pementasan Tokoh-Tokoh. Pembicaraan bapak malam itu membuat saya merenung dan iri. Makasih bapak, atas saran-saran yang sudah bapak berikan.

Oh iya, ini lirik lagu untuk kerajaan Hariara, saya bingung pak merangkai kata-katanya hehe.
Hariara oh hariara!
Kami kerajaan yang tak terkalahkan
Kami tidak takut pada siapapun
Alogo, jendral kami yang gagah berani
Tak pernah takut mati
Tak kenal rasa sakit
Raja Balga, raja yang kami puja
Raja yang paling disegani
Jangan kau berani melawannya
Karena kau bisa mati!

Semangat terus buat semuanya!
Balong.
Post a Comment

Anugerah

Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman...