Sunday, 16 March 2014

Catatan Pemain (Latihan Yang Terlambat dan Yang Terhambat)

Perlu diketahui, saya adalah orang yang buta arah, suka parno, dan dulu, saya sering tidak berani mengambil resiko. Saat masuk bengsas dan ikut proses ‘Tokoh-tokoh’, saya kehilangan hal-hal itu sedikit demi sedikit. Walaupun sampai sekarang saya tetap buta arah (Suer deh. Lewat satu jalan beribu kali, tetep ga ngerti itu ada dimana). Makanya saya sangat kesulitan ketika diterima di UNJ karena rumah saya ada di Bekasi dan sejak dulu sekolah saya selalu dekat dari rumah. Awal masuk bengsas, saya jarang masuk karena faktor jarak dan faktor males. Tapi lama-kelamaan saya kehilangan faktor-faktor yang nggak penting itu.

Itu sekedar Intermezzo.

Tadinya, setelah pementasan perdana angkatan 2013, saya sudah bertekad tidak akan ikut proses Alogo. Saya merasa tidak enak dengan orang tua karena selalu pulang larut malam, saya merasa perlu hiatus dan istirahat, dan sialnya, sedang ada geng motor nggak penting yang berkeliaran di sekitar daerah tempat tinggal saya. Mereka menyerang orang-orang yang tidak bersalah. Beritanya, mereka seenaknya dengan random membacok dan menyiram air keras. Malika yang suka parno pun kembali hadir. Maka sudah tak ada alasan untuk ikut proses Alogo.

Tapi setelah mendengar ocehan teman-teman bengsas yang seangkatan, saya merasa tidak sanggup untuk tidak ikut proses. Lagipula, saya sangat merindukan suasana latihan. Saya merindukan teman-teman dan kakak-kakak bengsas. Saya merindukan semuanya. Maka setelah seminggu tertinggal latihan Alogo, saya memutuskan untuk kembali ikut dalam proses. Sudah saya bilang, saat saya masuk bengsas, saya kehilangan sebagian hal-hal negatif pada diri saya sedikit demi sedikit. Saya jadi lebih berani mengambil resiko. Saya sudah tidak peduli pada geng motor dan tetek bengeknya. Lagipula mereka sudah lama tidak terdengar kabarnya. Dan saya selalu yakin, dibalik usaha keras, tak ada satupun yang sia-sia.

Keputusan saya tidak membawa penyesalan. Proses Alogo memang menyenangkan (dan menyiksa fisik saya yang penuh lemak). Saya sangat senang mengikuti latihan dan ikut proses bersama para senior. Walaupun nantinya proses akan berdarah-darah, tapi setiap sudut tubuh dan jiwa saya saling mendorong dan berkata bahwa saya siap. Latihan koreo prajurit sangat menarik dan walaupun tubuh kami masih kaku, saya yakin nantinya adegan ini pasti keren. Latihan sangat menyenangkan walaupun harus bolak-balik memanjat pagar (dan itu euforia tersendiri).

Hari ini, bengsas diberi ‘peringatan’ kasar. Pendopo FIP, tempat kami latihan sekarang, kini dicabut listrik dan lampunya. Entah oleh siapa. Saya tidak mengerti jalan pikiran orang yang bertindak seperti itu. Jika ada yang tidak suka dengan kami, mengapa memilih untuk memberitahu dengan cara seperti itu? Merokok dibebaskan, pengemis dibiarkan masuk, sampah menumpuk dianggap wajar, lalu mengapa berkarya saja dihalangi? Sastra sudah direndahkan. Dan hal yang paling direndahkan dari sastra adalah teater. Toh, ini hidup kami. Karena peristiwa itu, kami tidak bisa latihan dengan nyaman. Akhirnya kami pindah ke tercil dan latihan disana.


Yah, inilah latihan yang terlambat dan terhambat. Namun semangat tidak boleh luntur. Dan kami harus terus berkarya apapun yang terjadi. Inilah catatan pertama saya yang tentu tidak banyak mengandung unsur estetik. Hanya menyampaikan isi hati dengan jujur. Semoga untuk ke depannya, proses Alogo bisa berjalan dengan lancar, menyenangkan, dan sukses sebagaimana mestinya J

Malika/Makila/Malaika Tazkia
Post a Comment

Anugerah

Dari pinggiran trotoar yang kehilangan hangatnya matahari, seorang anak menangis setengah mengigil. Beberapa keping uang receh digenggaman...